Saturday, October 29, 2011

Murakami

Saya suka membaca buku. Hal ini tidak diragukan lagi sehingga jika ditanya mengenai hobi, membaca pastilah ada di urutan pertama. Menulis ada di urutan kedua. Dimulai dari membaca majalah Bobo di masa kecil dulu, setelah itu kecintaan saya pada membaca tumbuh makin besar dan konsisten. Tidak ada yang mengalahkan sensasi membaca lembar demi lembar, kalimat demi kalimat, kata demi kata yang tertulis di harumnya bau kertas dari sebuah buku. Sehingga saya yakin (atau lebih tepatnya berharap) meskipun sekarang banyak teknologi baru untuk membaca buku secara digital, tidak ada yang mampu menggantikan peran buku yang tercetak di atas kertas dan bisa dibaca bolak-balik sambil berguling-guling di kasur.

Sayangnya, minat saya membaca terkadang tidak sejalan dengan kemampuan (atau kemauan) saya untuk membeli buku. Iya, saya memang agak pelit sehingga seringkali keinginan untuk membeli buku tersingkirkan dengan alasan masih banyak keperluan lain yang lebih perlu diprioritaskan. Koleksi buku saya tidak sebanyak itu, meskipun sebenarnya saya juga punya ambisi seperti para penikmat buku lainnya untuk memiliki perpustakaan pribadi suatu hari nanti. Selera buku yang saya baca juga berjalan seiring dengan pertambahan usia. Selera membaca saya tidak terlalu tinggi sebenarnya, tadinya saya menolak membaca buku dengan tema yang terlalu berat apalagi jika disajikan secara non-fiksi. Saya lebih menyukai cerita roman picisan, percintaan, dan segala sesuatu yang bersifat ringan. Prinsipnya, saya hanya ingin membaca segala sesuatu yang sifatnya menghibur. Dulu saat demam teen-lit dan chick-lit melanda, saya juga menikmati jenis-jenis buku seperti itu. Tentunya buku-buku fantasi macam Harry Potter juga tidak terlewatkan. Sampai makin kesini saya makin menyadari, betapa cepatnya cerita teen-lit dan chick-lit hanya numpang lewat di kepala. Menghibur memang, tapi jadi begitu cepat terlupakan.

Sampai saya mulai membaca buku-buku yang agak lebih berisi demi menggantikan sesuatu yang cepat terlupakan. Tulisan Dewi Lestari bagi saya salah satu yang terbaik dari dalam negeri (saya belum sanggup membaca karya yang lebih berat macam Pramudya Ananta Toer). Buku favorit saya yang belum tergantikan sampai sejauh ini adalah The Time Traveler's Wife karya Audrey Niffenegger, lalu karya Khaled Hosseini yang sanggup membuat pembacanya menangis dan tersentuh, karya Nicholas Spark yang tidak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menulis novel cinta, dan terakhir akhirnya saya berkenalan dengan karya-karya Haruki Murakami.

Membaca karya-karya Haruki Murakami memberikan kesan mendalam bagi saya. Novel pertamanya yang saya baca adalah Norwegian Wood, seperti saran beberapa orang bahwa bagi para pemula penikmat karya Murakami sebaiknya mulai dengan membaca novel yang sedikit lebih 'ringan' ini dibandingkan karyanya yang lain. Norwegian Wood pada intinya adalah sebuah kisah cinta, namun bukan kisah cinta yang biasa. Jika membaca versi bahasa Inggrisnya, ada beberapa bagian yang sangat vulgar sebenarnya, entahlah yang dalam bahasa Indonesia (harusnya sama ya). Tapi yang terpenting adalah, pada saat dan beberapa hari setelah membaca novel ini, saya jadi ikut merasa tertekan dan depresi seperti hawa yang coba dikeluarkan melalui alur ceritanya.


Murakami menceritakan sesuatu yang kompleks menjadi enak dibaca, namun sebenarnya memiliki pesan-pesan tersembunyi. Seperti yang saya kutip dari Wikipedia,

Karya Murakami dideskripsikan oleh Virginia Quarterly Review sebagai "mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks."

Begitulah mungkin kesimpulan yang timbul setelah membaca karya pertamanya. Saya sangat menyukai cara Murakami bertutur, sehingga memutuskan untuk membeli karya lain dari penulis yang lahir pada 12 Januari 1949 ini. Kali ini adalah "Kafka on the Shore" atas rekomendasi seorang teman (thanks, Dil). Cerita di dalam Kafka on the Shore jauuh lebih rumit dan kompleks dibandingkan Norwegian Wood. Banyak hal yang tidak mampu dijelaskan dengan akal sehat dalam novel ini, dan memaksa kita untuk menebak-nebak sendiri apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Murakami. Apakah si ini benar adalah anak si itu? Apakah si ini sebenarnya adalah alter-ego si itu? Sampai novel berakhir, tidak satupun pertanyaan dapat terjawab secara eksplisit, kita harus menjawabnya dengan keyakinan sendiri. Namun anehnya, semua kerumitan itu mampu disampaikan Murakami secara enak dan lugas, sehingga para pembaca tidak bosan dan malahan ingin membacanya terus menerus. Sekali lagi seperti yang saya kutip dari Wikipedia, Murakami menyatakan bahwa untuk memahami Kafka on the Shore adalah dengan membacanya berulang kali.

"Kafka on the Shore contains several riddles, but there aren't any solutions provided. Instead, several of these riddles combine, and through their interaction the possibility of a solution takes shape. And the form this solution takes will be different for each reader. To put it another way, the riddles function as part of the solution. It's hard to explain, but that's the kind of novel I set out to write"

Memang tidak mudah dimengerti, tapi justru itu yang membuat penasaran. Seriously, I'm in love with Murakami's works. Jadi, buku Murakami selanjutnya yang saya incar adalah 'The Wind-Up Bird Chronicle', karyanya yang justru paling terkenal dibanding 2 judul yang saya sebut sebelumnya. Murakami memang jenius (paling tidak bagi saya dan para penikmat karya-karyanya). Tidak heran jika The Guardian memujinya dengan menyebutkan Murakami sebagai "among the world's greatest living novelists" for his works and achievements. See you soon, Mr. Murakami !


P.S: Entah kebetulan atau tidak, tapi judul Norwegian Wood dan Kafka on the Shore sebenarnya diambil dari judul lagu. Norwegian Wood adalah lagu The Beatles, sementara Kafka on the Shore adalah judul lagu yang akan diceritakan di dalam novelnya.

0 comments: