Sunday, November 13, 2011

11.11.11 dan Bandung

Bulan November di tahun 2011 ini memang lebih istimewa dibandingkan tahun lainnya. Paling tidak ada 3 tanggal cantik di bulan ini yang bisa dimanfaatkan untuk sengaja mengabadikan momen-momen istimewa, yakni 1 November 2011 (1-11-11), 11 November 2011 (11-11-11), dan 20 November 2011 (20-11-2011). Terutama untuk 2 tanggal terakhir, banyak undangan pernikahan bertebaran pada tanggal tersebut. Beruntunglah mereka yang memang sudah memiliki pasangan dan merencanakan pernikahan di tanggal tersebut. Tapi yang terpenting memang bukan menikah di tanggal yang cantik, akan tetapi menikah dengan orang yang tepat di saat yang tepat. Ehemm...

Bicara soal pernikahan, tanggal 12 November (bukan 11 November) yang lalu salah seorang teman baik ada yang menikah di Bandung. Jadilah pada hari Sabtu yang cerah itu saya datang ke kota kembang nan cantik tersebut untuk menghadiri pesta pernikahannya. Selamat ya madame pollyana Nanumie dan sang belahan hati Aulia yang resmi memulai lembaran baru dan menjadi pasangan berbahagia sejagat raya pada hari itu (dan semoga langgeng selamanya, amin).

Setelah puas melepas kangen dengan teman-teman lain dan menyantap hidangan yang disediakan di pesta pernikahan saya tidak langsung pulang melainkan memang sengaja ingin menghabiskan hari Sabtu di Bandung. Saya tidak mengerti jalan dan tidak mengerti benar mau kemana saja sebenarnya, cuma ada satu tujuan pasti yang memang sudah direncanakan, yakni..... masuk dan jalan-jalan di ITB (Institut Teknologi Bandung). Hahaha. Memang sejak dulu ingin jalan-jalan di ITB, tapi sekian kali kunjungan ke Bandung tidak jua terlaksana.

Dari gedung pernikahan di daerah Buah Batu sempat berkeliling dulu sambil menuju ke arah Djuanda. Cuaca Bandung hari itu lumayan menyenangkan, karena tidak panas seperti yang dikeluhkan orang-orang belakangan. Mungkin karena hari itu memang agak mendung. Saat melintasi Dago, sebenarnya ingin mampir dulu ke Kartika Sari namun sayangnya parkir sedang penuh, akhirnya dilanjutkan dengan melintasi ITB namun tidak langsung mampir. Tujuan pertama adalah mengunjungi Reading Lights, a 2nd-hand book shop and coffee corner, yang terletak di Jl. Siliwangi 16 (dekat Ciumbuleuit). Tempatnya menyenangkan sekali, homy dan bau kopi, begitu kesan pertama yang saya tangkap. Kalau punya waktu agak banyak, sebenarnya tempat ini cocok dipakai untuk duduk di pojokan yang nyaman, membaca buku berbahasa Inggris yang gratis dibaca di tempat ditemani secangkir kopi atau hidangan lain yang disediakan di sini (kabarnya rasanya enak-enak). Kalau saja saya kuliah di Bandung, pasti betah nongkrong di sini, hmm... Berhubung tidak bisa berlama-lama, akhirnya tidak sempat nongkrong lama. Tapi saya beruntung memperoleh buku-nya Stieg Larsson, millenium kedua dari trilogi yang dibuatnya, yakni The Girl Who Played with Fire. Saya membeli seri pertamanya, The Girl with the Dragon Tattoo, di Prancis dan tidak menyangka bahwa bisa menemukan buku keduanya di Paris van Java, ehehehe. Sebenarnya bukunya banyak di toko buku, tapi yang versi impor dan berharga murah kan tidak bisa ditemukan setiap saat (FYI, the price is Rp. 60.000,-).

2-nd hand book, The Girl Who Played with Fire

Setelahnya perjalanan dilanjutkan ke arah Cihampelas dan melewati Ciwalk tapi tidak mampir karena sudah pernah juga kesini. Tujuan kedua (dan sebenarnya muter lagi), adalah membeli oleh-oleh di Kartika Sari. Tempat parkirnya sudah tidak penuh jadi bisa langsung dapat dan memilah-milih oleh-oleh untuk dibawa pulang. Setelahnya, mobil tetap diparkir di Kartika Sari dan jalan-jalan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Yeaayyy... Bandung itu lebih nikmat dinikmati dengan jalan kaki, apalagi cuacanya adem dan dihiasi dengan pepohonan. Literally, kami benar-benar jalan kaki untuk jalan-jalan di Bandung setelah itu, menyusuri Dago dan akhirnya tiba juga di tujuan ketiga dan terpenting: ITB. Hihi. Walaupun tidak semegah kampus tercintaku UI, tapi kampus ITB memang memberikan kesan yang nyaman. Sore itu anak-anak Metalurgi ITB sedang menyiapkan acara entah apa sehingga ITB lumayan ramai karena ada panggung yang sedang disiapkan. Saya tidak sampai habis juga menyusuri ITB tapi lumayanlah akhirnya benar-benar bisa berkunjung ke sini.

 Secuil ITB, adakah yang familiar dengan tempat ini?

Tujuan keempat dan terakhir adalah mencari makan malam. Masih tetap berjalan kaki, ada tempat bebek goreng yang katanya super enak di Bandung: bebek Ali Borromeus. Letaknya berdekatan dengan pintu selatan Rumah Sakit Borromeus. Nama pemiliknya adalah Ali, jadi tidak perlu mempertanyakan asal muasal namanya lagi. Walaupun konsepnya adalah kaki lima, namun rasanya memang enak dan gurih, tidak heran tempat ini selalu ramai dan penuh. Buat saya sambalnya kurang pedas, tapi rasa bebeknya memang enak dan tidak amis.

Selesai makan, akhirnya kembali ke Kartika Sari untuk mengambil mobil dan sempat muter-muter lagi di Bandung untuk mencari brownies Prima Rasa pesanan keluarga di rumah. Tapi karena tidak berhasil menemukannya, akhirnya perjalanan di Bandung harus berakhir dan dilanjutkan dengan perjalanan pulang.

Hari Sabtu di Bandung kali ini sangat menyenangkan, terutama di bagian jalan kaki sore-sore menyusuri Dago dan ITB, untungnya tidak sempat terjebak macet yang biasanya terjadi di Bandung pada hari Sabtu. Hatur nuhun pisan, Bandung. Hatur nuhun juga buat si akang yang nemenin dan untuk mawar putih di akhir hari :)

0 comments: